headermask image

header image

Sebuah bahan kontemplasi

Hasil UAS baru saja keluar. Hasilnya, nilai IP saya 1,89. Jelek sekali, iya. Bagi seorang mahasiswa, IP adalah tolak ukur kemampuan. Tolak ukur sejauh mana dia menyerap semua materi kuliah selama satu semester. Dengan nilai IP yang saya dapat, tentu dapat diukur kemampuan saya menyerap materi kuliah. Tapi bagi saya, IP bukan berarti tingkat kecerdasan seorang mahasiswa. Tidak dapat dijadikan tolak ukur.

Tapi apapun itu, dengan hasil yang saya capai tentu saja saya kecewa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Yang patut disalahkan atsa ahasil yang saya dapat, tentu saja saya sendiri. Bukan orang lain.

Ada beberapa hal yang membuat saya berfikir. Satu yang pasti, saya bebal. Karena kebebalan saya lah, saya kurang begitu serius mengikuti perkuliahan. Datang tanpa niat belajar, sekedar absen. Saya juga jumawa, karena menyadari banyak teman-teman yang mengandalkan saya untuk bertanya. Saya jadi merasa pintar, merasa tidak usah belajar. Ya..ya..pikiran yang picik sekali.

Sudah tidak ada lagi waktu untuk penyesalan. Yang sudah terjadi dijadikan pembelajaran untuk ke depan, berbuat lebih baik.

Ketika Payjo Merasa Gundah Gulana

Ijinkan saya kali ini meracau sekehendak hati saya brader.

Beberapa hari ini saya sedang gundah brader. E’ek tidak nyaman, tidur tidak nyenyak, ngupil tidak nikmat. Kegundahan saya berasal dari sesuatu yang saya tidak tahu apa itu. Datangnya tiba-tiba, menyergap di saat saya tidak siap. Diibaratkan bayi, biasanya disuapi satu sendok Milna lalu tiba-tiba dijejali satu mangkuk penuh. Saya tersedak. Tersedak sama gundah gulana. Haduh, saya terkesan cengeng ya brader? Ah, entahlah. Kalo sedang seperti ini, saya suka bingung pengen bilang ke siapa. Pun menulisnya di blog, kurang nyaman. Tapi saya sudah minta ijin untuk meracau ke situ kan, brader.

Brader, saya seorang peragu. Seorang plin-plan yang terancam (atau sudah) tidak punya pendirian. Gampang percaya. Yaa, ibaratkan saja saya e’ek. Ikut kemana aliran air sungai mengalir. Saya tipe-tipe orang yang nggak pernah merasa tenteram hatinya. Mendengar ini, saya ikut panik. Dia bilang itu, saya bingung bersikap. Semacam itulah. 

Dan beberapa hari ini, saya dihadapkan akan tanggung jawab. Tanpa saya sadari, beban tanggung jawab yang saya tanggung begitu besar. Tiba-tiba saya dihajar sama kondisi, bahwa di umur saya yang 21 tahun saya harus bersikap dewasa. Saya punya tanggung jawab sama masa depan saya. Saya harus punya rencana umur berapa menikah, pekerjaan apa yang membuat saya sejahtera, ilmu apa yang bisa buat bekal saya, dan sebagainya.

Brader, mungkin gundah yang saya rasakan karena saya sedikit tidak bisa menerima keadaan di atas. Saya masih ingin santai, menikmati masa muda. Ketawa, nongkrong, tidur, makan. Yah, ini sekedar kemungkinan. Saya sendiri belum tahu apa alasannya.

Pernah merasakan hal yang sama brader? Punya nasehat buat saya?

Golput

Dikondisikan begini, situ bagian dari sebuah sistem besar dimana situ berposisi sebagai rakyat jelata yang sedang merasa jengah dengan konflik yang terjadi di atas. Ya seperti kebanyakan, ribut-ribut mengambil kursi kepemimpinan.

Lha situ sebagai rakyat jelata yang yang sedang jengah dan tidak lagi mau mengurusi soal itu lagi, dus situ juga merasa cuma rakyat kecil jadi tidak begitu penting mikirin kekuasaan.

Pada suatu ketika, tahu-tahu situ mendapat kartu dari Pak RT. Kartu untuk pemilihan pemimpin yang baru. Lha, situ tau saja tidak kalau ternyata ada pemilihan pemimpin. Pengumuman tidak mendengar, Koran tidak baca tipi Cuma liat Super Mama. Dan pemilihannya besok.

Tiba-tiba, hati nurani situ terusik. Ini inti demokrasi, suara situ menentukan siapa pemimpin yang akan terpilih dan jadi supir arah situ. Lalu situ kalang kabut mencari siapa saja calon pemimpin untuk pemilihan besok dengan program-program kerjanya. Nanya temen, berselancar di internet sampai meminta wangsit di kuburan. Hasilnya nihil.

Yang situ dapatkan cuma informasi kalau ada dua calon dengan program kerja yang satu akan mempererat hubungan antara rakyat jelata dengan kaum bangsawan dan yang satu akan membuat kotak surat keluhan yang akan di buka sebulan sekali. Situ buta sama sekali sama pribadi maupun program kerja dari calon pemimpin yang dicalonkan.

Lalu situ berfikir daripada suara situ diberikan kepada orang yang salah, lebih baik tidak diberikan kepada siapa-siapa saja. Toh, ada hadits yang menyarankan lebih baik diam kalau tidak tahu kan? (Iya bener nggak ya?)

——————————————————————————-

Ini soal pemilihan -entah senat entah BEM- dikampus saya, BSI Daan Mogot Tangerang. Tau-tau waktu masuk ke lobi kampus, saya diseret seseorang dengan tanda pengenal panitia untuk ikut pemilihan ketua apalah itu. Lah, jelas saya tolak, calonnya siapa aja saya tidak tahu. Apalagi program-program kerja mereka. Eh malah si panitia bilang

“Nggak apa-apa asal pilih aja. Nggak apa-apa koq”

Nah loh, si panitia tau nggak soal demokrasi dan suara hati nurani?

*Pemilu 2009 sebentar lagi.

Ini soal BSI brader!

 

Saya mau cerita soal Bina Sarana Informatika. Berawal dari kelas dosen PA saya. Sebut saja Pak Astari. Dia ini motivator, suka ngisi seminar-seminar motivasi. Kata-katanya penuh optimisme, ambisi dan tekad yang kuat, dan bikin ngantuk.

 

Tapi,ini BSI. BSI, yang daftarnya nggak lebih dari 3 juta itu. Yang mahasiswanya nggak pernah tanya sama dosen kalo ada yang nggak ngerti itu. Yang bisanya cuma ketawa ngakak ngetawain kebodohan sendiri itu. BSI yang, ah sudahlah.

 

Tiap minggu, Pak Astari ini ngorbanin jam mengajarnya untuk memotivasi kami (Mahasiswa dengan pemikiran setingkat sekolah paket B) untuk sukses. Berbagai jurus dan rapalan mantra di keluarkan. Bukan sekali-dua kali pemirsa. Tapi hampir selama satu semester.

 

Salahnya, ini BSI. BSI, yang daftarnya nggak lebih dari 3 juta itu. Yang mahasiswanya nggakpernah tanya dos, udahlah. Alhasil, sampe akhir semester mahasiswanya (termasuk saya) cuman bisa cengengesan nggak jelas, yang ketawa kenceng kalo ada temen yang nyeletuk berbau selangkangan pas pelajaran. Yang diem kayak patung kalo dosen tanya ada yang belum jelas mengenai pelajaran.

 

Maaf kalo di paragraf awal kesannya saya menyalahkan BSI sebagai institusi pendidikan tidak bermutu. Saya nggak bermaksud gitu koq. Bukan itu poinnya. Ada dua poin yang ingin saya sentil. Pertama adalah tidak adanya tes seleksi masuk di BSI. Karena swasta? Hal ini yang menyebabkan mahasiswa/i yang masuk ke BSI tidak mempunyai standar mutu tertentu. Standar mutu ini diperlukan supaya materi-materi yang ada di BSI bisa di serap maksimal oleh mahasiswa/i terseleksi. Tapi kalo ada seleksi, saya juga belum tentu lulus juga. Selama ini, ada penilaian dalam masyarakat pendidikan maupun masyarakat industri kerja akan rendahnya mutu lulusan BSI. Ada itu, tetangga saya lulusan BSI nggak bisa Office. Duh!

 

Poin kedua adalah lebih bersifat personal. Mahasiswa/i BSI. Saya tidak akan menggeneralisasi tapi sepanjang yang saya lihat, terutama di kelas saya, adalah minim dan rendahnya minat mahasiswa/i BSI untuk serius belajar. Tidak ada inisiatif untuk mencari pelajaran diluar kampus, jarang bertanya. Ah, saya seperti sedang berkaca ke diri sendiri.

 

Tapi apapun itu, semoga nggak berlangsung terus menerus. Situ tahu, saya mulai bangga kuliah di BSI lho.

 

*Pak Astari, orang kayak kami ini sepertinya sudah tidak mempan ocehan panjang lebar soal sikap optimistis biar sukses. Sepertinya, otak kami sudah terlalu bebal untuk sadar hanya dengan kata-kata motivasi. Kami sedang nunggu momentum yang bakalan ngerubah pandangan kami. Sesuatu (entah peristiwa entah apa) yang akan merubah total pandangan kami terhadap diri sendiri dan masa depan. Menunggu Godotkah saya?

 

**Lagi-lagi, tulisan saya bertema bias. Maaf brader, saya sering oot di tengah jalan :mrgreen:

 

**Brader, dimanapun kita belajar yang terpenting adalah seberapa keras usaha kita memanfaatkan setiap ilmu yang kita dapat, bukan?

Belajar mengalir brader!

Baru saya sadari lho pembaca, tulisan perdana di blog ini yang saya buat 3 hari lalu ternyata jauh dari bagus. Awalnya, di blog ini saya ingin meningkatkan kemampuan saya menulis. Situ mungkin sudah tahu kalo di blog saya yang terdahulu, tulisannya nggak genah. Ndak kfenagh sangadh mbuat di baca. 

Lhadalah, setelah saya baca lagi tulisan itu ternyata nggak karuan. Dari pemilihan judul yang tidak tepat sampai dari ide utama tulisan. Bias ya, saya seperti membuat tulisan yang pokok utamanya tidak jelas. Ya, namanya juga belajar. Betul? 

Eh ini, ada tulisan yang saya kopas dari blog saya yang di dagdigdug. Semoga menghibur. 

Tulisan yang mengalir

Seorang bloger pasti sadar kalo tulisannya pasti suatu saat ada yang baca. Entah nyasar karena diarahkan situs pencari atau cara lainnya. Maka seorang bloger harus sadar untuk membuat tulisan yang enak dibaca. Tulisan yang membuat si pembaca merasa betah untuk menyelesaikan membaca tulisan sampai tuntas.

Karena ini bukan blog kumpulan tips ngeblog, maka saya akan memaparkan seperti apa tulisan yang enak dibaca itu berdasarkan kacamata saya sebagai bloger yang kebanyakan membaca blog dibanding menulis blog. 

Bagi saya tulisan yang enak dibaca itu salah satu contohnya adalah tulisan yang mengalir. Artinya isi tulisan dituliskan dengan alur yang rapih, tidak meloncat-loncat sehingga isi dari tulisan mudah dipahami walaupun topik yang dibahas kompleks. Pada paragraf pertama kita diberikan semacam prolog ringan mengenai tulisan yang akan dibahas , dilanjutkan dengan pembahasan topik utama yang minim istilah-istilah rumit yang memudahkan pembaca mengerti isi tulisan. Kadang disertai juga analogi-analogi sederhana untuk sesuatu yang sangat kompleks. 

Jangan pula lupakan untuk menyisipkan beberapa guyonan-guyonan segar untuk mencairkan suasana. Niscaya, pembaca senang akan tulisan situ. Dan punahlah fast reader.. :mrgreen:

 

Titik buntu di zona enak

 

Sepengetahuan saya, kebanyakan bloger itu adalah orang-orang beruntung yang memanfaatkan koneksi internet di tempat kerjanya untuk kegiatan bloging. Situ termasuk nggak? Soal koneksi internet ini, satu-satunya bagian terpenting dari aktifitas bloging. Tanpa koneksi internet, ya pastinya nggak bakal ada yang namanya blog. 

Ah, beruntunglah situ semua yang sampai sekarang masih menggunakan koneksi tempat kerja untuk ngeblog. Ya, walaupun mungkin kecepatan koneksinya nggak kenceng-kenceng amat. 

Saya mau cerita sedikit soal tempat kerja saya. Sebenernya, kerja disini enak. Kerjanya cuman melayani Oom-Oom haus birahi customer yang pengen kirim barang, pasang iklan, fotokopi atau yang cuman mau maen warnet. Nah, soal warnet ini yang mau saya cerita. Jujur, karyawan yang bekerja disini yang berjumlah 4 orang anak kampung semua. Selayaknya anak kampung dikasih mainan kota berupa internet, ya betah. Semuanya dicoba, semua dimanfaatin. Liat bokep, maenin friendster, donglot film, berburu yang show ngeliatin toket di YM. Yang ngeblog saya doang. 

Nah kebetulan, di tempat saya kerja ada dua unit komputer yang disediakan bagi karyawan untuk urusan print dan nyeting-nyeting desain kartu nama atau banner. Semuanya konek ke internet. Dasar anak kampung norak, kerjaan semuanya ya dari pagi sampe pulang cuma mantengin layar komputer. Jadi dari rumah diniatkan untuk main internet, bukan kerja. Yang ada dipikiran itu Cuma “Hari ini saya harus selesai donglot film Miyabi!”. Bukan kerja yang bener. 

Kalo sedang khusyuk-khusyuknya browsing trus ada customer datang, itu di anggap gangguan. Pengennya itu customer cepet-cepet pergi. Setelah itu, ya ngejogrok lagi di depan komputer. Nggak peduli lantai kotor belum di pel. Nggak peduli di atas customer teriak-teriak komputernya hang. 

Dasar anak kampung yang punya sifat Indonesia banget, kalo lagi enak ya pasti keenakan. Terlena. Padahal di masing-masing komputer sudah terinstal software-software yang kalo di pelajarin, bisa menambah keahlian. Ada CorelDraw, Photoshop, malah saya install Macromedia Flash segala. Tapi ya itu, kerjaannya nggak jauh maen di forum sawomatang.com, melototin youporn.com, redtube.com, dan ngisep video-videonya bangbros sama naughty america. Apalagi .3gp, wuihhh. Bergiga-giga. 

Yang jadi masalah ya itu tadi, pikirannya anak kampung itu ndlongok. Kayak lubang pantat dijahit, ya e’eknya nggak bakal bisa keluar. Otak e’ek! 

Coba kalo sudah nggak kerja, lagi nganggur baru nyesel kenapa dulu nggak belajar CorelDraw jadinya bisa ngelamar kerja di percetakan undangan. Kan minimal bisa nyeting sama desain. 

Anak kampung, norak, nggak mau mikir. Wah, ya lengkap. Untung saya masih punya modal ketampanan. Coba situ liat di kampung atau di desa pas musim panen. Pak petani berlomba-lomba belanja , mentang-mentang panennya sukses. Beli sepeda motor, padahal nggak bisa dipake ngebajak sawah. Beli jam tangan Rolex abal-abal, padahal jadwal setiap hari mentok dari rumah ke sawah. Nggak bakal ada jadwal meeting sama produser misalnya. Apa karena ini penyakit bawaan? Saya tidak menganggap petani jelek sifatnya, tapi ya mungkin di beberapa daerah ini sudah menjadi kebiasaan?

*Walah, saya jadi inget situs yang pertama kali saya buka, extrajoss.com. Itu situs bokep, kalo situ mau tahu :mrgreen:

**Situs apa yang pertama kali situ buka?

gambar dari sini

 

Hello blog

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Oom Widi dan Oom Caplang atas kesabaran dan kemurahan hatinya membimbing saya sampai blog ini jadi. Juga Oom Jendral.

Maaf yang sebesar-besarnya kepada Hana dan Oom Nazieb atas pertanyaan-pertanyaan bodoh saya semisal “Han, payjo.info berat nggak dibuka disitu?” atau “Oom Nazieb, saya koq nggak bisa upload gambar ya?”. Juga Kyu.

Terima kasih kepada brader Moerz yang baru kembali atas header yang memukai.

Terima kasih juga buat beib, atas cinta dan hasrat menggelora. Kata-kata mengerucut kehilangan arti tanpamu sayang..

Terakhir, terima kasih atas inspirasi hasrat ngeblog dari Mbak Tika dan gaya bahasa serta penulisan Oom Joe. Saya pembaca Oom Joe, bukan pengkomen :mrgreen:

Mengingat begitu banyaknya blog-blog baru bermunculan, semoga ini jalan saya keluar dari kurungan wordpress dan blogspot. Saya ingin touring blog, ke delapan penjuru mata angin. AKhir kata, selamat bloging semuanya!

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!